09 Januari 2009

Untukmu Ayah

Ayah sepertiga malam ini ananda mengingatmu, mengingat semua tentangmu. Ayah aku sekarang telah "besar", aku sudah bisa hidup. Hidup sendiri, jauh dari bising suara herman yang gelisah melihat tim sepakbola kesayangannya kalah, dari celoteh uda yang resah melihat perkembangan pikiran kritisku, juga dari over kagumnya Hendro dan Robi terhadap sosokku..tapi di luar itu aku sangat rindu mama yang selalu mendengarkan tiap keluh kesahku tentang uda, tentang sekolahku, tentang herman yang bisu, tentang wanita yang kusayangi. Juga mama selalu mendengar gelisahku kala melihat Ayah yang sering duduk berlama-lama di lapau dengan kawan-kawan Ayah hingga seakan Ayah lupa akan mama dan kami berlima.

Namun semua tinggal nostalgia kita. Sekarang maafkan aku Ayah aku belum bisa dibanggakan. Belum dapat memberikan sebungkus rokok kretek kesukaanmu, sejuta emas untuk kebanggaan yang diiming-imingkan uda untukmu.

Ayah, saat aku duduk di bangku sekolah ayah pernah bilang, aku ini “lain” sedikt berbeda yang pasukan pandawamu. Tapi, lanjutmu aku ini terlalu bodoh untuk berbohong, terlalu lunak untuk menjadi tegas. Kau juga bilang, aku ini terlalu banyak mengeluh dan selalu melarikan diri dari kesalahan.

Ah mungkin ada benarnya Ayah. Namun ingatkah ayah saat aku beranjak remaja, aku kerap membuatmu galau, marah, putus asa terhadapku. Kau tak pernah lagi mau menyempatkan diri melihat nilai-nilaiku.

Tak pernah ada lagi pembelaanmu terhadap keanehanku, seakan kau sudah masa bodoh. Sampai akhirnya uda juga ikut-ikutan memarahi. Uda bertanya tentang tingkahku, mukanya yang keling seakan memutih pasih mendengar jawaban dari pertanyaanku.

“Ha…ha…ha..sudah tahu nanya” begitu jawabku meremehkannya. Selanjutnya bogem-bogem mentah kami saling beradu. Sampai akhirnya raungan dan tangisan mama lah yang membuat kami berhenti.

Ayah sekarang aku berada di kota yang mana telah menyeretku untuk berpikir memahami kenyataan, mengartikan tanggung jawab, membawa diri disela-sela perbedaan.

Ayah…aku sangat rindu padamu, pada caramu mendidik uda, aku, dan adik-adik. Caramu mencintai mama juga caramu mengasihi umi, apa, amak dan kakak perempuanmu di Bukittinggi.

Entahlah Ayah di kota ini rinduku kian membengkak bak bisul yang mau pecah, tak terbendung dalam luapan emosi mengingatmu dalam mendidik dengan cara yang tak ku pahami...namun semua itu atas dasar cinta ayah untukku, anakmu. Rasa cinta yang ketika itu membuatku butakan analisaku tentang perempuan….entahlah kadang masih ada ingatanku tentang dia.

Ayah pada akhirnya aku juga menyayangimu,…disini banyak inginku mengadu memberitahumu tentang “sesuatu”. Tentang hari-hariku, tentang semua yang terjadi padaku disini… Maafkan aku ayah. Semoga engkau sedikit tenang melihat keadaanku yang mulai membaik..

08 Januari 2009

Seberapa Kuat Otak Gue Mampu mengingatnya dan Menceritakannya.

Pagi Rumah

"Mentari, kau bangunkanku pagi ini

Dengan sinarnmu yang merasuk melaluli celah - celah jendela kamar yang usang

Menyapa dalam bahasanya dan dalam merdunya nyanyian burung pagi

Mengatakan indahnya pagi itu"

Pagi ini rencananya gue mau ke kantor pos, untuk ngirimin beberapa lamaran. Jam 09.30 wib, gue pamit ke mbah putri (begitu gue, memanggil nenek gue dengan sebutan mbah putri) untuk keluar, ya.. selama di Cirebon, gue tinggal bersama mbah putri dan adik gue yang masih duduk di bangku SMA kelas 2. Dia emang tinggal sendiri sejak beberapa tahun silam kakek gue meninggal dunia secara mendadak dan saat itu gue masih duduk di kelas 2 SMA. Ga ada yang menduga, karena pagi harinya dia masih sempet untuk belanja kebutuhan bulanan kami.

“Mbah. . . Fadli keluar dulu ya. . mau ke kantor pos, mau ngirimin lamaran” gue pamit, sambil mencium tangannya yang sudah terlihat keriput.
“ya . . ati ati ya. .”
“pintu ntar dikunci aja, mbah mau tiduran.. kuncinya bawa aja” pesen nenek gue, memang kunci pintu di rumah hanya ada dua. Satu dibawa adik, karena takut ganggu istirahat nenek gue kalo sedang tiduran, dan satunya buat dirumah.
“oya. . Jangan lupa, pagar dikunci lagi. .” tambah nenek gue
“iya mbah. .” gue meng”iya”kan, sambil menutup pintu depan dan menguncinya.


Menunggu


Setibanya di kantor pos, ternyata lumayan banyak yang mengantri untuk masukin lamaran CPNS.

“fuih. . . rame juga nih. . . bete nunggunya. .” sambil liat liat suasana, ternyata ada loket yang kosong. Gue masuk ke loket itu, dan itu hanya buat pengiriman diluar lamaran CPNS.
“pa, bisa kirim paket. .?”

“ke mana mas. .?”
“ke bandung pa. .”
“coba saya liat. .”
gue mengeluarkan dua amplop coklat yang berisikan lamaran ke beberapa perusahaan di bandung.
“oh, ini ga perlu pake paket lagi mas, cukup via pos biasa aja. . apalagi disini alamatnya pake PO.BOX, pasti langsung nyampe” jelasnya sambil mengambil dua amplop yang gue kasiin.
“ya udah pak kalo gt…”
“berapa pak ongkosnya..?” tanya gue
“Mmm… delapan ribu mas, satu amplopnya empat ribu”
“ya pak, ni uangnya..” sambil gue kasiin satu lembar uang lima ribu dan tiga lembar pecahan seribu rupiah.
“huuuh… satu kerjaan udah beres, tinggal gue masuk antrian lamaran CPNS..” sambil mengeluarkan posel jadul gue, coba megusir rasa kejenuhan menunggu antrian. Mulanya gue buka program mig33, ya.. program buat chating dari ponsel, program ini mulai gue kenal beberapa tahun silam, saat di kosan masih belangganan internet, awalnya iseng cari – cari program YM (yahoo messenger) gue coba cari, dan ternyata program mig33 ini mampu untuk beradaptasi dengan hape gue.

Setelah dirasa jenuh dengan chat di mig33, gue coba alihkan dengan mengaktifkan fasilitas YM. Ada beberapa list temen gue yang lagi OL (On Line) di YM, gue coba menyapa diantara mereka dengan nick zen_globe
Gue : “BUZZ!!” begitu awalnya gue nyapa dia
Zen : “Oy.. naon beh..?” dia bales dengan bahasa sunda, memang awalnya gue kenal dia juga dari mig33 di room Bandung.
Gue : “ngga.. lagi bĂȘte aja uy.. ngantri nih buat masukin lamaran CPNS”
Gue : “Keur naon Jen..??”
Zen : “lagi kuliah nih…”
Gue : “Oooh… naha kuliah sambil chating..??”
Zen : “dosenna lagi keluar… jadi we OL Hehehehe”
Gue : “Ya udah lah, ni antrian dah bentaran lagi nyampe..”
Zen : “Oke..oke.. sukses beh…”
Gue : “Sip…sip Jen, nuhun ah…” Gue mengakhiri obrolan YM karena ga kerasa udah di depan loket, tapi program YM tetep gue “OL” in dengan status “busy”.

Sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat, gue coba ber “basa, basi, busuk” dengan petugas penjaga loket.
“ini buat lamaran CPNS kota Cirebon pak..?” gue coba buka obrolan, padahal udah jelas – jelas di depan loket ada tulisan “LOKET LAMARAN CPNS KOTA DAN KABUPATEN CIREBON”
“Ya mas..” jawab si petugas itu dengan muka yang gue liat, agak sedikit mau muntah mendengar pertanyaan itu.
“buat kota nih mas..??” tanya petugas
“Ya pak..”
“Oh.. ya, biayanya tujuh belas ribu” si petugas langsung minta duit, tanpa menjelaskan perincian dananya.
“ya pak, ni uangnya” sambil gue kasi uang sejumlah tersebut.
“Mmmm.. ntar tunggu dulu ya.. buat tanda trimanya..” Jelas si petugas
“Oh, iya pak..” sambil keluar dari antrian gue coba baca – baca beberapa tulisan yang ada di papan pengumuman yang menempel di dinding sebelah timur kantor pos, menunggu nama gue di panggil. Gak berapa lama nama gue di panggil si petugas, dan dia memberikan tanda terima yang disitu ada perincian dananya..

Sambil jalan menuju pulang, gue sedikit ngilangin penat melintasi sebuah mall. Selain cari – cari pemandangan, lewat mall lumayan bisa ngilangin hawa panasnya kota Cirebon siang itu, waktu setempat menunjukan pukul 10.55 wib.
“Triiiing…..” Hahahaha, ntu suara hape gue, ada sms.
“Tolong kirim ulang lamaran anda dalam format pdf atau doc. Fad, ini sms yang dari Oman” sms itu dari nenek gue, emang gue sempet dapat info dari temen, klo sodaranya yang di Oman lagi butuh tukang gambar alias Drafter. Beberapa waktu silam emang gue udah kirimin via email, tapi gue bikin jadi satu dalam bentuk “rar”, kayanya di sana ntu orang ga bisa bukanya kali ya…
“ya mbah, ntar sekalian pulang mampir ke warnet dulu” bales gue. Untungnya gue bawa data – data yang mau di kirimin. Akhirnya mampirlah sejenak gue ke sebuah warnet di kawasan jalan Tentera Pelajar. Setelah semua gue upload dan send langsung cabut balik ke rumah, karena waktu itu tepat hari Jumat.

07 Januari 2009

Titik Koma


Prakata

Jam di PC Dekstop milik kantor menunjukan pukul 21.59 WITA, mulai dengan aktifitas yang membuang waktu. awalnya hanya mengambil sebatang rokok bermerk L.A Lights buatan PT. Djarum, Kudus - Indonesia, kemudian mengambil sebuah cricket (korek gas) lalu menyalakannya. Menghisap sedikit demi sedikit menikati asap rokok yang terbang melayang entah kemana, bersama pikiran yang lagi entah ada dimana rimbanya. entah jemari ini ingin menulis tentang apa… di sebelah kanan ku seorang teman baik yang ku kenal sedang ber “surfing” di alam maya, mencari - cari info lowongan pekerjaan.

Mungkin Tentang Hati Bung…!!!

“gila.. kayanya gue luamayn stress berat untuk masalah yang satu ini..!!” entah kenapa, dalam hati berkata demikian, mungkin ada hal yang memang sulit untuk diterima.

“ya.. memang, udah berapa hari ini gue ga ngehubungin dia, udah berapa hari kebelakang gue ngirim dia email, tapi entah dia baca atau ngga..” ingat ku dalam beberapa belahan otak bagian kanan yang terus memabayangkan wajahnya.

“gue ga bisa terus begini… gue harus bisa keluar dari masalah ini..”

“dulu gue pernah ngalamin yang kaya gini, dan itu semuanya biisa gue atasi. se enggaknya, lu bisa ambil pelajaran dari yang kemaren, kenapa sekarang lu ga bisa…!!” entah seberapa hebatnya pergulatan jiwa dan pikiran yang ada dalam diri ku.

“tapi yang sekarang beda…!!”
“yang sekarang gue dah bener - bener sayang ma dia… dan setiap kali gue coba untuk melenyapkan bayangan itu, semakin kuat rasa itu..!!” rasa yang memang aku sendiri tak mampu tuk membacanya.

“entah, alam memberikan apalagi untuk gue…!!” fuih.. sambil meluruskan kaki, ku coba sedikit berpikr tentang apa yang terjadi.

Ga terasa, rokok yang tadi ku hisap kini hanya tinggal asap yang telah bercampu dengan udara di sekitar, sebentar ku andang jendela kantor yang memang menghadap ke jalan. Jalan El Tari yang merupakan jalan utama kabupaten ini. tapak hening, hanya sekitar 3 sampai 5 kendaraan per menit yang lewat. Memang, sejak kedatangan ku di kota ini hawa hening bengitu menyeruak di seantero kota. Berbeda jauh dari keadaan kota asalku di Jawa sana, se enggaknya malam hari kaya gini masih ada beberapa penjual keliling, dan di jalan utama kota pun masih banyak muda - mudi yang berbinacang - bincang hanya sekedar menghilangkan penat.

“gue kangen ama dia…!!” sekali lagi kata - kata itu muncul dari alam bawah sadar ku, mengagetkan waktu ku menikmati heningnya kota ini.

“entah, harus mengadu kemana gue.. ada rasa yang kurang kayanya.. ada rasa yang belum sepenuhnya gue selesaikan.. ada pikiran yang sebenernya masih mengganjal di otak ini..!!” sebuah pergulatan perasaan dan logika yang begitu kersanya, terjadi begitu saja..

“mungkin, gue harus hubungi dia lagi..”
“tapi… pa mungkin dia bakalan mau untuk sekedar angkat telepon atau bales sms gue…??”
“ah… kayanya berat dia untuk ngebales sms gue, apalagi untuk ngangkat telepon dari gue..” gila.. pikiran ku ini selalu berdebat seperti itu, apalagi di saat - saat hening kaya gini.

Teman di sebelah kanan ku telah berganti topik pencariannya di dunia maya, sekarang dia sedang melihat - lihat, dan membandingkan harga ponsel yang rencananya akan dia beli. Memang, dia pernah menanyakan hal itu, tentang merk ponsel dan spesifikasinya yang dapat mendukung kerjanya di daerah kabupaten Lembata, dan setahu ku memang, akses untuk jaringan provider di sana agak minim dan tidak adanya akses untuk internet. Aku yang lebih beruntung sedikit, karena daerah kerjaku nanti di derah Kabupaten Manggarai. Ruteng mungkin menjadi kota tempat ku menetap sementara di tanah Flores ini, se enggaknya sampai sekitar bulan April atau mungkin sampai proyek ini beres lebih tepatmya.

“gue harus hubungi dia, gue harus bicara ama dia langsung…!!”
“dia harus tau apa yang sebenernya gue rasa ke dia… gue sayang dia..!!”
“dan se enggaknya dari situ gue bisa tau, bagaimana pandangan dia ke gue…!!” sedikir menarik nafas, dan menghelanya perlahan…

01 Januari 2009

MRAM: Teknologi Terbaru Memori Komputer, 10 Kali Lebih Cepat dari RAM

Kecepatan komputer selalu didambakan oleh siapa saja. Berbagai usaha dan penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan komputer. Beberapa waktu yang lalu super komputer tercepat di dunia telah hadir untuk membantu militer amerika melakukan perhitungan. Kini giliran sebuah teknologi di bidang Memory komputer. Sebelumnya Anda pasti pernah mendengar istilah RAM (Ramdom Access Memory) untuk menyebut memory komputer. Memory RAM ini memiliki berbagai jenis mulai dari EDO RAM, DDR1, DDR2 dan beberapa jenis lainnya. Namun ternyata RAM saja belum cukup untuk memuaskan kebutuhan manusia akan tuntutan kecepatan. Oleh karena itu, Fisikawan dan Insinyur Jerman mengembangkan sebuah jenis memory baru.

Memory tersebut diberi nama Magnetoresistive Random Access Memory (MRAM), memory ini bukan hanya lebih cepat daripada RAM tetapi juga lebih hemat Energi. Kehadiran MRAM sepertinya akan meningkatkan perkembangan mobile computing dan level penyimpanan dengan cara membalik arah kutub utara-selatan medan magnet.

IBM dan beberapa perusahaan pengembang yang lain berencana menggunakan MRAM, MRAM ini akan memutar elektron-elektron untuk mengganti kutub magnet. Hal ini juga dikenal sebagai spin-torque MRAM (Torsi putar MRAM) teknologi inilah yang kini sedang dikembangkan oleh para fisikawan dan insinyur Jerman.

Dengan membangun pilar-pilar kecil berukuran 165 nano meter, akan mengakibatkan magnet variabel pada atas lapisan akan mengakibatkan arus listrik mengalir dari bawah ke atas dan akan memutar posisi elektron. Medan magnet ini akan berubah dan hanya membutuhkan sedikit waktu untuk merubah kutub medan magnet ini. Kemudian kutub utara dan selatan akan bertukar. Jika anda bingung dengan proses di atas, tidak usah dihiraukan juga tidak apa-apa. Atau kalau mau membaca sendiri yang versi inggris disini. Yang pasti, kecepatan MRAM mencapai 10 kali lipat kecepatan RAM. Kecepatan ini masih bisa terus dikembangkan dimasa depan.

29 Desember 2008

Selayang Pandang

Tak ada salahnya kalau kita memaksimalkan teknologi, walaupun sebenarnya kita tak menegri. Hidup yang tak serta merta hanya diam pada suatu tempat, tetapi terlebih apabila kita mencoba untuk belajar mengembangkan kemampuan diri.